WISATA

Wisata Ngawi

1.Waduk Pondok Ngawi

Wisata Bendungan Pondok sangat potensial bila pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi, serius dan jeli menggarapnya. Dengan hamparan air yang luas yang dikeliling pohon-pohon yang rindang merupakan tempat rekreasi yang menarik. Tentunya pihak terkait melakukan penghijauan di sepanjang lahan yang bisa ditanami selain sebagai penguat tepian waduk, juga mampu menciptakan udara yang sejuk dan teduh. Setiap individu pohon akan memberikan kontribusi berupa oksigen yang sangat penting bagi kehidupan. Hamparan rumput di lahan datar di sisi kiri kanan yang dipenuhi pohon-pohon peneduh akan mengundang setiap orang yang memandang. Disitu para pengunjung dapat melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga.

Meskipun hanya duduk dan istirahat, mereka sudah merasakan tenang dan rileks yang tidak ditemukan di obyek lain. Usahakan menciptakan image yang khas, lain dari biasanya. Betulbetul menghadirkan Hutan di tepian waduk sehingga mengundang burung-burung datang. Simbiosis Mutualisma antara tanaman dan burung membentuk ekosistem yang baik. Burung dan serangga yang hidup mengiringi hijaunya kawasan berguna dalam proses penyerbukan tanaman itu sendiri. Daun-daun yang kering merupakan sumber pendapatan bila diolah menjadi pupuk organik. Ekonomi masyarakat sekitar akan bergerak dengan kreatifitas para perajin souvenir. Begitupula seterusnya.Sarana pendukung seperti kamar mandi dan WC harus selalu bersih, Para pedagang ditata agar tertib tetapi tetap menarik. Pelayanan dan keramahan selalu dikedepankan karena kesan pertama bagi pengunjung adalah masa depan obyek wisata itu sendiri. Kebersihan dan Penghijauan adalah hal dasar yang harus diutamakan karena ini termasuk dalam Wisata Alam. Kuncinya adalah bagaimana kita dapat mengelola Sumber Daya Alam yaitu Air. Karena air adalah sumber kehidupan, yang dapat memuaskan dari dahaga. Dahaga akan kesejahteraan masyarakat……

Bendungan Pondok terletak di Desa Gondang Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur. Pelaksanaan kontruksi dimulai pada tahun 1993 samapai 1995 Pembangunan infrastruksur ini menghabiskan biaya mencapai Rp. 30 milyar. Pengelolaannya sekarang dilakukan oleh: Pengelola Wilayah Sungai Bengawan Solo. Bendungan ini difungsikan sebagai pemasok kebutuhan air irigasi sampai seluas 3.500 ha. Bendungan Pondok mempunyai luas daerah aliran sungai sekitar 32,90 km2. Curahan hujan tahunan : 2000 mmVolume waduk pada :
Muka Air (MA) banjir : 38,1 juta m3, Muka Air (MA) normal : 30,9 juta m3
Volume Mati : 2,9 juta m3, Vol. Efektif : 28 juta m3

Tipe Bendungan ini, berdasarkan materi dan struktur bangunan diklasifikasikan sebagai urugan batu dengan inti tanah dengan panjang puncak mencapai 298 m dan tinggi di atas dasar sungai : 30,67 m. Lebar puncak : 8 m, Tinggi di atas galian terdalam : 32 m, Elevasi puncak : EI + 110 m, Volume tubuh bendungan : 300.000 m3.

Bangunan pengeluaran untuk irigasi :

Tipe : terowongan
Panjang : 199,76 m
Bentuk : lingkaran
Tipe alat operasi : katup kupu
Garis tengah : 3,10 m
Kapasitas : 4,50 m3/detik

2.Museum Trinil Ngawi

Situs Museum Trinil dalam penelitian merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang lebih 1,5 juta tahun yang lalu. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya. Museum Trinil terletak di Jalan Raya Solo – Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, kurang lebih 13 kilometer arah barat pusat kota Ngawi, dan untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan semua jenis kendaraan. Sayang sekali di jalan arteri yang bisa menjadi petunjuk utama, tidak ada satupun patokan yang bisa mengarahkan kita ke Museum tersebut. Kalau bertanya sama seseorang hanya dijawab, “ Pokoknya belok ke gang yang ada gapura hitamnya,”. Akhirnya setelah bertanya selama dua kali, sampailah kami di lokasi museum.

Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam 1 km dari jalan raya utama, kemudian kami melapor ke pos penjaga untuk membayar tiket masuk. Memang luar biasa murah kalau boleh dikatakan, bayangkan untuk melihat peradaban jutaan tahun yang lalu hanya dikenakan biaya masuk seribu rupiah per orang. Ketika masuk ke lokasi parkir, kesan pertama yang timbul adalah bahwa museum ini kurang optimal perawatannya, terutama dalam hal fasilitas dan kebersihan.

Masuk ke dalam museum kami mendapati ruangan yang dipenuhi dengan tulang-tulang manusia purba. Diantaranya adalah : fosil tengkorak manusia purba ( Phitecantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi ), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil Area), fosil tulng rahang bawah macan (Felis Tigris Mandi Bula Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area).Disamping itu masih ada beberapa fosil tengkorak : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Selain fosil-fosil tengkorak yang tersebut hal yang menarik lainnya adalah, adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Dulu tak banyak orang tahu akan makna tugu itu, bahkan kemungkinan besar bisa rusak kalau tidak dpelihara oleh seorang sukarelawan.

Wirodihardjo atau Wiro balung alias Sapari dari Kelurahan Kawu adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna yang besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar ia berpendapat begitu, karena ia telah menyaksikan ekspedisi atau penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan setelah penggalian yang dilakukan E.Dubois dan Salenka. Orang asing atau mahasiswa datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi yang tentunya dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah tersebut, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu.

Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena beliau menjadi tempat untuk bertanya para pengunjung tentang fosil di Trinil. Walaupun tempat tersebut terkenal sebagai daerah fosil, namun kenyataan waktu itu tidak satupun fosil yang ada di Trinil. Untuk itulah ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan di sungai Bengawan Solo. Selain itu Pak Wiro juga mendapat laporan dari penduduk sekitar bahwa mereka menemukan fosil. Dari hari ke hari fosil yang dikumpulkan dari tiga desa ; sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar bertambah banyak, atas tinjauan Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi waktu itu ( Pak Mukiyo ) ia mendapat bantuan tiga buah almari untuk menyimpan fosil-fosil tersebut. Sejak saat itulah Pak Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan balung-balung ( tulang ).

Dan selanjutnya pada tahun 1980/1981 Pemerintah daerah setempat mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil tersebut yang diresmikan oleh Bapak Gubernur Jatim “Soelarso” pada tanggal 20 Nopember 1991. Namun sayang Wiro Balung sudah tiada sejak 1 April 1990 dan keahlian beliau diteruskan oleh anaknya Mas Sujono ( 37 ) yang sekarang menjad juru kunci Museum Trinil. Selain dari diorama yang ada, Mas Sujono juga banyak memberikan keterangan tambahan kepada kami.Diantara tambahan keterangan Mas Sujono yang sangat penting adalah,”Bahwasannya Trinil merupakan daerah padang savanna pada masa lampau. Kenapa ? karena adanya manusia, banteng, gajah dan hewan-hewan yang lain yang tumbuh di satu area. Hal ini cukup menunjukkan kalau dulu daerah ini adalah savanna. Namun kemudian setelah adanya letusan Gunung Lawu yang berturut-turut hancurlah peradaban yang ada di Trinil dan sekitarnya,” kata Mas Sujono dengan mimik serius. Dengan melihat Museum Trinil suatu kearifan dapat kita tarik dari berbagai temuan para ilmuwan tentang manusia purba. Adalah suatu kenyataan bahwa dibalik keanekaragaman wujud kehidupan kita dewasa ini, sesungguhnya ada kesamaan asal-usul kita seluruhnya sebagai manusia.(AMGD)

3.Kebun Teh Jamus

JAMUS, sebuah kawasan di lereng utara Gunung Lawu, memiliki panorama alam cukup elok dengan hamparan kebun teh. Meski bukan objek wisata utama, suhu udara yang sejuk di sana menjadikan tempat ini cukup populer untuk liburan akhir pekan.

Mengunjungi kebun teh di Jamus terasa seperti menyusuri perkebunan di kawasan Puncak Bogor. Boleh jadi, iklim di kedua tempat ini memiliki kemiripan, sehingga sama-sama bisa tumbuh tanaman teh. Panorama alam dan kesejukan hawa di tempat Jamus mengingatkan kita pada Kota Batu di Malang atau Kaliurang di Jogjakarta. Bagi warga Semarang, Bandungan bisa disejajarkan dengan kawasan rekreasi tersebut.Hanya saja, Batu dan Kaliurang lebih dikembangkan sebagai tempat peristirahatan. Di sana banyak berdiri tempat-tempat penginapan, vila dan hotel, bahkan resort.Sedang di Jamus, suasananya masih murni alam perdesaan. Di sana tak ada bangunan-bangunan mewah, melainkan hanya rumah-rumah penduduk yang sederhana.

Jamus berada pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini terletak di lereng utara Gunung Lawu yang subur. Secara administrasi, Jamus terletak di Desa Giri Kerto Kecamatan Sine Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Dari Kota Ngawi, kira-kira 42 kilometer di sebelah Barat Daya.Bekunjung ke kebun teh Jamus, memang tidak begitu sulit. Tetapi, pengunjung tetap harus ekstra hati-hati. Jalannya berkelok-kelok dan menaik. Lokasi ini bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua.

Dari Kota Ngawi bisa ditempuh menggunakan mini bus jurusan Ngawi-Sine (40 km). Namun, sebelum sampai di ibukota Kecamatan Seni, Anda turun di Ngrambe, sebuah kota kecil ibukota Kecamatan Ngrambe. Jarak Ngawi – Ngrambe sekitar 34 kilometer. Kota kecil itu berada pada ketinggian sekitar 400 meter dpl.Jalan menuju ke sana beraspal mulus, tetapi cukup berkelok-kelok dan naik turun. Sesekali melewati tanjakan, lalu sedikit menurun dan tiba-tiba masuk tikungan tajam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, pengunjung akan tiba di kawasan lereng gunung di Kecamatan Ngrambe. Pada saat cuaca cerah, puncak Gunung Lawu terasa kelihatan di depan mata. Namun, pada musim penghujan seperti sekarang, Anda jangan berharap bisa melihat pemandangan seperti itu. Puncak gunung setinggi lebih dari tiga ribu meter itu selalu diliputi kabut tebal.

Dari kota Ngrambe terlihat perkebunan ini sepertinya hanya berada beberapa ratus meter saja. Padahal, puncak masih beberapa kilometer dari lokasi tersebut.Setelah tiba di Ngrambe, pengunjung melanjutkan perjalanan ke Desa Giri Kerto, sebuah desa wilayah Kecamatan Sine yang berbatasan dengan Kecamatan Ngrambe. Giri Kerto merupakan desa paling tinggi di kawasan lereng tersebut. Perjalanan dari kota Ngrambe ke kebun teh Jamus ditempuh kira-kira tujuh kilometer. Dari kota kecil itu, hanya sesekali ada angkutan perdesaan. Yang paling cepat, menggunakan jasa angkutan ojek. Tarifnya sekitar Rp10 ribu.Jalan dari Ngrambe sampai ke lokasi sedikit demi sedikit terasa menaik. Tetapi tidak begitu berat. Tantangan baru terasa setelah melewati Desa Giri Kerto yang memasuki kawasan kebun.

Di situlah, kondisi jalan mulai terjal dan berkelok-kelok. Namun, di balik tantangan itu, pengunjung akan mendapat sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.Daya tarik Jamus terletak pada pemandangan alamnya. Sejak berangkat dari kota Ngawi ke Ngrambe, pengunjung disuguhi pemandangan alam Gunung Lawu yang berdiri megah.Banyak hal menarik selama perjalanan. Selain disuguhi panorama alam yang indah, di kanan-kiri jalan, merupakan lahan pertanian yang subur. Para petani padi, tebu dan sayur-sayuran.Puncak terlihat semakin dekat, seiring dengan perjalanan menuju kebun teh Jamus. Perjalanan ke Jamus, melewati beberapa perkampungan. Jalan dari Ngrambe ke Jamus, sebenarnya sudah beraspal. Hanya saja, kondisi jalan sebagian mengalami kerusakan. Di beberapa tempat terdapat lubang menganga.

Namun, kondisi ini tak menyurutkan pengunjung untuk datang. Terutama pada hari libur, rombongan-rombongan anak muda menggunakan sepeda motor tampak berseliweran, naik turun ke lokasi.Dari sini, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang sangat asri. Dari kejauhan tampak hamparan kebun teh yang menghijau di lereng-lereng gunung.

Sementara, di kanan dan kiri jalan merupakan lahan pertanian yang subur. Penduduk setempat menanami lahan itu dengan tanaman padi dan sayur-sayuran. Kawasan ini hampir tak pernah kekurangan air. Pada musim kemarau maupun penghujan, air cukup melimpah. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya saya berhasil melewati Giri Kerto, desa terakhir sebelum memasuki kawasan kebun teh Jamus.Mulai dari sini, jalan terasa menanjak dan berkelok-kelok. Di kanan dan kiri jalan merupakan perbukitan yang ditanami teh. Di tengah-tengah perkebunan itu terdapat sebuah pabrik kecil, untuk memproses daun teh yang dipetik para pekerja.Sebelum memasuki kawasan pabrik, terdapat sebuah pos penjaga. Untuk bisa memasuki kawasan itu, pengunjung ditarik karcis Rp1.000 per orang.

Dari ketinggian sekitar 800 meter inilah, pengunjung bisa menikmati pemandangan alam yang begitu memikat. Dari atas, ketika cuaca cerah, pengunjung bisa melihat lembah subur di utara Gunung Lawu, yang meliputi wilayah Kabupaten Ngawi di Jawa Timur, sampai Kabupaten Sragen, di Jawa Tengah. Kawasan kebun teh Jamus awalnya bukan objek wisata. Tetapi, pesona alam di kawasan ini menjadikan banyak orang tertarik berkunjung.Di kawasan ini, terdapat sebuah pemandian dan gua. Masyarakat sekitar menyebutnya gua Jepang. Namun, untuk menuju objek tersebut, pengunjung harus naik lagi melalui jalan berbatu. palopo abdurahman


 
 
4.Alas Ketonggo Srigati
         HUTAN Ketonggo, demikian sebutan masyarakat Ngawi untuk hutan yang terletak 12 kilometer arah selatan Kota Ngawi itu. Meski sebetulnya sama dengan hutan-hutan lainnya, namun Ketonggo lebih kesohor dibanding hutan-hutan lain di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (Jatim). Apa yang membuat Ketonggo termasyhur? Sampai-sampai kesebelasan perserikatan Ngawi yakni Persatuan Sepak Bola Ngawi (Persenga), dijuluki "Laskar Ketonggo"?

Keberadaan Pesanggrahan Srigati-sebuah obyek wisata spiritual di Ketonggo-merupakan sebab utama kemasyhuran hutan seluas 4.846 meter persegi itu. Kepercayaan masyarakat yang menganggap Ketonggo sebagai pusat keraton lelembut atau makhluk halus, dikukuhkan dengan banyaknya tempat-tempat pertapaan yang mistik dan sakral. Menurut catatan, di Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan. Mulai dari Pesanggrahan Agung Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Memasuki hutan Ketonggo, para tamu langsung dapat melihat Pesanggrahan Agung Srigati, berupa sebuah rumah kecil berukuran 4×3 meter. Di dalamnya terdapat gundukan tanah, yang dari hari ke hari terus tumbuh, sehingga makin lama makin banyak. Dinding rumah itu dikitari bendera panjang Merah-Putih. Khas tempat sakral, Pesanggrahan Srigati pekat dengan bau dupa. Di sekitar tanah, yang terlindung atap rumah itu, juga berserakan bunga tabur yang selalu disebarkan para tamu.

Marji, pemandu tempat-tempat sakral Ketonggo menuturkan, tanah di Pesanggrahan Srigati hanya saat-saat tertentu saja tidak tumbuh. “Misalnya, waktu Indonesia tertimpa krisis moneter tahun 1997 lalu. Tidak ada satu milimeter pun tanah tumbuh. Padahal, biasanya setiap hari selalu ada perkembangan, sampai sekarang,” katanya, sembari mengungkapkan bahwa tanah itu selalu dibawa tamu yang bertapa di situ, sehingga selalu berkurang sedikit demi sedikit. Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, serta pada bulan Suro dalam kalender Jawa, ribuan masyarakat berbondong-bondong ke pesanggrahan ini. Pada saat-saat yang dianggap keramat itu, wargar berdoa dan bertapa untuk meminta berkah. Baik itu berkah karier atau jabatan, keselamatan, kesehatan, jodoh, dan sebagainya.

Tak hanya di Srigati. Beberapa lokasi sakral lain di Ketonggo, juga diyakini dapat mengantarkan mereka menuju cita-cita yang diinginkan. Misalnya, mandi di Kali Tempur Sedalem, sebuah sendang yang merupakan pertemuan dua sungai, dan sesudah itu memanjatkan doa di tugu di dekatnya, diyakini harapannya akan dapat terwujud. Adapun Pesanggrahan Soekarno, disebut demikian karena konon Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah bertapa di tempat itu. Dikisahkan, ada seseorang tak dikenal yang pernah membawa foto Bung Karno yang sedang bertapa di tempat berdirinya Pesanggrahan Soekarno sekarang ini. Orang itu membawa foto Bung Karno bertapa tersebut, tahun 1977.

Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya sejumlah tokoh tua Ngawi menyepakati titik di mana Bung Karno bersemedi di Ketonggo itu dijadikan Pesanggrahan Soekarno. Dibanding Pesanggrahan Srigati, Pesanggrahan Soekarno terlihat lebih sederhana. Hanya ada lima tonggak yang menopang bilik kecil beratap asbes yang tanpa dinding itu. Di tengahnya ada beberapa batu.

PESANGGRAHAN Srigati yang masuk wilayah Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, konon adalah tempat beristirahat Prabu Brawijaya, setelah kalah perang dari Raden Patah, tahun 1293. “Sebelum berkembang menjadi pesanggrahan dengan dibangunnya rumah kecil ini pada tahun 1975, dulu gundukan tanah ini dikenal sebagai petilasan Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit,” ujar Marji.

Sebagai tempat sakral, banyak kisah-kisah unik yang terjadi di Alas Ketonggo, terutama ketika muncul perubahan situasi politik nasional. Marji mengisahkan, saat Soeharto akan lengser pada 21 Mei 1998, sebuah pohon jati di Ketonggo tiba-tiba mengering. “Kemarin-kemarin, pohon itu tumbuh seperti biasa. Waktu Pak Harto lengser, tiba-tiba mati dan mengering,” katanya.

Pada 23 hari sebelum Ny Tien Soeharto meninggal, juga ada kejadian aneh. Sebuah dahan pohon besar di Ketonggo tiba-tiba patah dan jatuh ke tanah. Padahal, waktu itu tidak ada hujan dan tidak ada angin. Peristiwa unik juga terjadi saat Megawati Soekarnoputri akan dilantik menjadi Presiden RI, 23 Juli 2001. Tiga hari sebelum pengukuhan Mega sebagai presiden, ada cahaya berwarna biru dan putih, bak lampu lentera, di atas Kali Tempur Sedalem. Berhubungan atau tidaknya tanda-tanda itu dengan tampilnya Presiden Megawati, Anda boleh percaya boleh tidak.

Beberapa cerita menarik juga dialami mereka yang bertapa di Pesanggrahan Srigati. Sekarjati, seorang perempuan yang tinggal di Jakarta, usai bertapa di Srigati, terus terbayang-bayang wajah seorang perempuan cantik berpakaian kebaya. “Katanya, sampai sekian hari terus terbayang wajah itu. Akhirnya, Mbak Sekarjati melukis wajah dalam bayangan itu,” ucap Marji lagi.

Sekarang, lukisan tersebut dipajang di ruang pengunjung Pesanggrahan Srigati. Seorang perempuan cantik mengenakan kebaya, rambutnya bergelung konde, dengan bibir yang sedang mengembangkan senyum. Kesakralan Pesanggrahan Srigati dan beberapa tempat penting di hutan Ketonggo, membuat sudah banyak orang yang meminta berkah di sana. Termasuk beberapa tokoh dan pejabat di negeri ini. Sayang memang, jalan masuk menuju Pesanggrahan Srigati yang sakral itu tidak mulus. Hanya ada jalan berbatu yang bergelombang sepanjang empat kilometer lebih. Ada baiknya, perbaikan jalan menuju pesanggrahan itu segera dilakukan. Supaya tamu-tamu dari jauh dapat merasakan nikmatnya perjalanan, sebelum mereka meminta berkah di tempat mistis itu. (Adi Prinantyo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: